Tantangan Indonesia dengan Adanya Inovasi Kendaraan listik

Kendaraan sangat penting bagi kehidupan manusia sehari-hari. Pulang-pergi ke sekolah atau ke kantor biasanya sering naik kendaraan baik kendaraan milik pribadi maupun publik. Dalam satu keluarga mempunyai minimal 1 kendaraan sebagai transportasi.


Pada Diskusi Road Map Pengembangan Kendaraan listrik ini membahas gambaran mobil listrik, kebijakan pengembangan industri Low Carbon Emission Vehicle  (LCEV)  dan kesiapan PLN menyosong kendaraan listrik dari empat tokoh bicara yaitu:
1. Faisal Basri - Pakar Ekonomi.
2. Harjanto - Dirjen Industri logam, mesin, alat transportasi, dan alat eloktrinika.
3. Yohannes Nangoi - Ketua umum Gaikindo.
4. Syofvi F.  Roekman - Direktur Perencanaan Korporat PT PLN (Persero).
Acara diskusi ini diselenggarakan oleh Bisnis Indonesia pada tanggal 10 Juli 2018 di Kantor Pusat PLN.

Mobil listrik merupakan elemen dari "New Economy" yang mengacu pada konvergensi antara industri manufaktur, jasa, dan teknologi dengan inovasi berkelanjutan serta ramah lingkungan.

Mobil listrik bukan lagi menjadi perdebatan, tetapi mobil listrik sudah menjadi pilihan untuk masa depan. Beberapa negara seperti  Norwegia, Prancis, dan Inggris telah mencangkan target peralihan sepenuhnya dari kendaraan berbahan bakar fosil ke kendaraan listrik.
Battery powered electric vehicles diyakini sebagai obat yang dapat memerangi global warming.

Ternyata Indonesia adalah salah satu negara penghasil mobil terbesar. Setiap tahunnya dapat menghasilkan 1.2 juta unit , oleh karena itu Indonesia dapat mengekspor mobil. Mobil yang banyak digunakan masyarakat Indonesia untuk Passenger car dibandingkan Komersial.  Penjualan kendaraan elektrik di Indonesia sebesar 460.000 atau 0,5 % dari total penjualan nasional.

Sektor industri otomotif memberikan kontribusi yang signifikan terhadap PDB. Industri otomotif merupakan salah satu sektor andalan ekspor dan investasi sebesar 3,35 triliun rupiah.

Program LCEV (Low Carbon Emission Vehicle) merupakan program pengembangan industri kendaraan bermotor dengan menggunakan pendekatan emisi CO2 yang dihasilkan kendaraan. Kelompok kendaraan LCEV sebagai berikut :
1. Kategori I, Low Carbon for Ice Technology : KBH2
2. Kategori II,  Low Carbon for hybrid electric technology :HEV,  PHEV, Duel HEV, dan lain-lain.
3. Kategori III,  Low/zero Carbon technology: BEV dan FCEV


Salah satu tujuan atau sasaran LCEV adalah berdasarkan kajian, program LCEV dapat mencapai target COP 21 sebesar 29% di tahun 2030.


Bagaimana persiapan PLN menyongsong kendaraan listrik?. 
"PLN sangat mendukung Electric Vehicle karena kita tahu kebutuhan listrik cukup besar disana. PLN sudah membangun SPLU, tetapi ini chargingnya masih low charging untuk motor-motor membutuhkan waktu yang lama. Kalau untuk fast charging ,kami harus butuh persiapan dan equipment yang lebih daripada yang ada saat ini. PLN masuk dalam salah satu organisasi untuk melihat charging seperti apa yang akan dikembangkan" ujar bu Syofvie.

Sejak tahun 2011 PLN sudah melakukan riset tentang dukungan terhadap pengembangan kendaraan listrik di Indonesia. PLN melakukan riset atas karakteristike kinerja Evina, 3 prototype mobil listrik type city car milik PT PLN (Persero).

PLN mendukung dari supply listrik untuk EV. PLN sudah terlibat dalam penyediaan SPLU kendaraan listrik pada forum APEC tahun 2013 di Bali. Saat ini SPLU PLN untuk mobil listrik siap diproduksi massal dan beberapa SPLU sudah tersedia di lingkungan PT PLN (Persero).  Selain untuk mobil listrik, PLN menyiapkan SPLU untuk sepeda motor listrik. Saat ini jumlahnya 875 unit di Indonesia dan sudah lebih dari 540 unit tersebar di daerah Jakarta Raya. Warga Jakarta bisa menemukan lokasi SPLU PLN melalui aplikasi Google Map.

Tantangan Electric Vehicle di Indonesia:
1. dari infrastruktur : masih kurangnya ketersediaan charging station.
2. Harga EV:
Harganya saat ini relatif sangat mahal. Saat ini harga paling murah 500-600 juta.
1/3 harga EV adalah harga batery.
3. Usia battery 2-3 tahun. Berarti baterai tidak dapat dalam waktu jangka panjang.
4. Pengolahan daur ulang baterai membutuhkan waktu yang sangat lama.

Jika negara Indonesia ingin membuat mobil listrik sendiri. Indonesia harus punya bahan baku baterai, karena baterai merupakan salah satu komponen kendaraan listrik yang harganya mahal dan bahan baku sulit ditemukan. Baru satu negara yang dapat mendaur ulang (recycle)  baterai yaitu Belgia.

Indonesia mempunyai Nikel dan Kobalt sebagai bahan baku yang dapat dibuat menjadi baterai, tetapi membutuhkan teknologi dan riset serta biaya yang mahal.

Indonesia bisa fokus mendorong pengurangan emisi gas buang KBM dan pengurangan bahan bakar fosil melalui optimalisasi:
1. Penggunaan BBG
Konsentrasi pada pembangunan infrastruktur SPBG.
2. Penggunaan Ethanol (E5-E7)
Teknologi sudah tersedia.
3. Penggunaan Biofuel.
4. Adopsi euro VI-EV.
Share:

No comments:

Post a Comment